Tampilkan postingan dengan label pemeriksaan klinik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemeriksaan klinik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Mei 2012

pemeriksaan sumsum tulang

Diposting oleh Unknown di 06.03 0 komentar

SUMSUM TULANG

(PUNKSI,  MEMBUAT DAN MEMULAS SEDIAAN)


Untuk mendapat keterangan tentang hematopoesis yang berlangsung dalam sumsum tulang,  sejumlah kecil sumsum di ambil dengan memakai jarum khusus yang dibuat dengan maksud tersebut.
Pada orang dewasa punksi sumsum sering dilakukan pada corpus sterni setinggi sela iga ketiga. Tempat lain ialah os ileum sedikit dibawah crista iliaca atau salah satu processus spinosus vertebrae lumbalis. Pada anak kurang dari 2 tahun, punksi dapat dilakukan juga pada ujung kranial dan sebelah medial os tibia. Menurut keadaan klinik, tempat lain-lain pun dapat dipakai untuk punksi.
Bahan yang didapat pada punksi dapat dipakai untuk bermacam-macam pemeriksaan : sediaan apus dipulas wright atau dipulas terhadap hemosiderin, sediaan penampang, pemeriksaan sel  LE, untuk pemeriksaan bakteriologi, dll.
Disini hanya diterangkan beberapa pemeriksaan hematologi saja.

A.        PUNKSI SUMSUM TULANG TANPA ANTICOAGULANT
1.       Jika dianggap perlu kepada orang sakit boleh diberikan obat penenang, umpamanya diazepam.
2.       Tempat punksi harus bersih, kalau perlu cucilah dulu dengan air dan sabun.
3.       Desinfeksikanlah tempat itu dengan tct. Iodii 5% atau desinfektans lain dan kemudian dengan alkohol 70%. Biarkan kering lagi.
4.       Lakukanlan anestesi setempat memakai larutan procain, lidocain, dsb 1% atau 2% dengan juga menginfiltrasi periost.
5.       Jarum sumsum dengan mandrennya terpasang ditusukkan ke dalam kulit sampai tertumbuk tulang. Teruskanlah pemasukan jarum itu dengan mengadakan tekanan sambil menggerakkan jarum seperti membor sampai ujung jarum masuk rongga sumsum.
6.       Angkatlah mandren dan pasanglah semprit 10 atau 20 ml.
7.       Isaplah sumsum dengan cepat menarik pengisap semprit itu. Kalau diperoleh aspirat (sumsum bercampur darah dari sinus) sebanyak 0.3 ml berhentilah.
8.       Cabutlah jarum bersama semprit dan kenakanlah tekanan dengan gumpalan kassa steril pada luka, tekanlah selama beberapa menit.
9.       Tutuplah luka dengan kassa steril dan plester.

B.        PUNKSI SUMSUM TULANG MEMAMKAI ANTICOAGULANT
Semua tindakan sama seperti tertulis diatas. Perbedaannya : semprit diisi terlebih dahulu dengan sejumlah kecil anticoagulant steril dalam larutan heparin atau EDTA 10%. Jumlah bahan yang dihisap boleh ;ebih banyak, yaitu 4-5 ml. Campurlah baik-baik dalam semprit seterlah aspirat didapat supaya tidak membeku.


CATATAN :
Dari jarum sumsum dikenal beberapa bentuk, yang mana juga dipakai hendaknya pucuknya pendek, tajam, da lurus. Manden harus tepat mengisi lumen jarum itu yang diameternya 1-2 mm.
Segala tindakan pada punksi harus dilakukan dengan mengingat syarat-syarat aseptis. Berhati-hatilah melakukan punksi pada seseorang yang menderita diatesis hemoragik dengan masa perdarahan yang memanjang.
Kebanyakan penderita lebih suka diambil sumsum tulangnya dari crista iliaca atau dari vertebrata daripada dari sternum. Pada waktu mengisap sumsum tulang penderita berasa nyeri, lebih banyak diisap, lebih nyeri. Dipihak lain, menghisap lebih banyak sumsum dengan memakai anticoagulant memberi kesempatan pada pemeriksa untuk mempelajari aspirat dengan cara makroskopik, ia dapat menilai banyaknya partikel sumsum dalam aspirat dibandingkan dengan seluruh volume aspirat, ia dapat memperhatikan besarnya partikel-partikel dan ia dapat membuat sediaan dengan hanya memakai partikel saja sehingga tidak terlalu diganggu oleh adanya unsur-unsur darah tepi.

C.         MEMBUAT SEDIAA APUS SUMSUM TULANG
1.       Taruhlah setetes besar ke atas beberapa kaca objek dan miringkanlah kaca itu sehingga darah mengalir dan potongan somsum terlihat.
2.       Isaplah kelebihan darah memakai sepotong kertas saing atau dengan pipet pasteur.
3.       Buatlah sediaan apus dari potongan sumsum itu dan pulaslah dengan Wright.

CATATAN :
Jika bahan bercampur anticoagulant, keluarkanlah bahan ke dalam gelas arloji atau cawan petri, carilah potongan-potongan sumsum dan buatlah sediaan apus seperti biasa dari potongan-potongan itu. Selain dibuat sediaan apus, partikel-partikel dalam aspirat ber-anticoagulant juga dapat dipakai untuk membuat sediaan yang hampir tidak berisi unsur darah tepi. Dengan memakai  ujung jarum terlebih dulu beberapa partikel dipersatukan, kemudian kumpulan itu digeser –pindahkan tanpa tekanan diatas kaca objek memakai ujung jarum tadi sehingga pada akhirnya diperoleh sediaan yang bebas dari erytrosit-erytrosit. Sediaan yang dibuat dengan cara ini memperlihatkan penyebaran sel-sel sumsum tulang yang mendekati struktur aslinya.
Apabila hanya sedikit sekali sumsum tulang yang didapat atau sama sekali tidak kelihatan adanya potongan sumsum tulang, masukkanlah bahan itu kedalam tabung-tabung wintrobe dan pusinglah selama 7 menit pada kecepatan 2000 rpm. Oleh tindakan itu potongan-potongan sumsum akan terapung diatas seperti buffy coat dan dapat diambil dengan pipet untuk membuat sediaan apus. Tindakan memusing bahan aspirasi sumsum hanya boleh dilakukan sebagai tindakan darurat. Proses pemusingan mungkin sekali mengganggu penyebaran sel-sel berinti  dalam bahan itu, sehingga gambaran sumsum menjadi tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.
 
         D.   MEMBUAT SEDIAAN SUMSUM UNTUK PENAMPANG
Baiknya selalu memasukkan sebagian dari bahan memakai atau tanpa anticoagulant yang mengandung potongan sumsum kedalam larutan formaldehida 4%. Bahan dalam formalin itu kemudian dipakai untuk membuat penampang histologik, dipulas hematoxylin-eosin. Pemeriksaan penampang sumsum tulang, struktur itu tidak mungkin diketahui dari sediaan apus.
Agar dapat dipelajari struktur sumsum bersama tulang dalam hubungan histologiknya, sebaiknya dibuat biopsi dengan trepan. Penampang yang dibuat secara itu dapat memberi keterangan mengenai anemia aplastik, fibrosis, sklerosis, dll. Dilain pihak, penampang tidak baik untuk meneliti morfologi sel satu persatu.

Selasa, 01 Mei 2012

Reference Values ​​Blood Chemistry Examination

Diposting oleh Unknown di 02.15 0 komentar
TEST NORMAL VALUE* CLINICAL SIGNIFICANCE
Blood urea nitrogen (BUN) 7-18 mg/dL Increased in renal disease and dehydration; decreased in liver damage and malnutrition
Carbon dioxide (CO2) (includes bicarbonate) 23-30 mmol/L Useful to evaluate acid-base balance by measuring total carbon dioxide in the blood: Elevated in vomiting and pulmonary disease; decreased in diabetic acidosis, acute renal failure, and hyperventilation
Chloride (Cl) 98-106 mEq/L Increased in dehydration, hyperventilation, and congestive heart failure; decreased in vomiting,diarrhea, and fever
Creatinine 0.6-1.2 mg/dL Produced at a constant rate and excreted by the kidney; increased in kidney disease
Glucose Fasting: 70-110 mg/dL Random: 85-125 mg/dL Increased in diabetes and severe illness; decreased in insulin overdose or hypoglycemia
Potassium (K) 3.5-5 mEq/L Increased in renal failure, extensive cell damage, and acidosis; decreased in vomiting, diarrhea, and excess administration of diuretics or IV fluids
Sodium (Na) 101-111 mEq/L or 135-148 mEq/L (depending on test) Increased in dehydration and diabetes insipidus; decreased in overload of IV fluids, burns,diarrhea, or vomiting
Alanine aminotransferase (ALT) 10-40 U/L Used to diagnose and monitor treatment of liver disease and to monitor the effects of drugs on the liver; increased in myocardial infarction
Albumin 3.8-5.0 g/dL Albumin holds water in blood; decreased in liver disease and kidney disease
Albumin-globulin ratio (A/G ratio) Greater than 1 Low A/G ratio signifies a tendency for edema because globulin is less effective than albumin at holding water in the blood
Alkaline phosphatase (ALP) 20-70 U/L (varies by method) Enzyme of bone metabolism; increased in liver disease and metastatic bone disease
Amylase 21-160 U/L Used to diagnose and monitor treatment of acute pancreatitis and to detect inflammation of the salivary glands
Aspartate aminotransferase (AST) 0-41 U/L (varies) Enzyme present in tissues with high metabolic activity; increased in myocardial infarction and liver disease
Bilirubin, total 0.2-1.0 mg/dL Breakdown product of hemoglobin from red blood cells; increased when excessive red blood cells are being destroyed or in liver disease
Calcium (Ca) 8.8-10.0 mg/dL Increased in excess parathyroid hormone production and in cancer; decreased in alkalosis, elevated phosphate in renal failure, and excess IV fluids
Cholesterol 120-220 mg/dL desirable range Screening test used to evaluate risk of heart disease; levels of 200 mg/dL or above indicate increased risk of heart disease and warrant further investigation
Creatine phosphokinase (CPK or CK) Men: 38-174 U/L Women: 96-140 U/L Elevated enzyme level indicates myocardial infarction or damage to skeletal muscle. When elevated,specific fractions (isoenzymes) are tested for
Gamma-glutamyl transferase (GGT) Men: 6-26 U/L Women: 4-18 U/L Used to diagnose liver disease and to test for chronic alcoholism
Globulins 2.3-3.5 g/dL Proteins active in immunity; help albumin keep water in blood
Iron, serum (Fe) Men: 75-175 g/dL Women:65-165 /dL Decreased in iron deficiency and anemia; increased in hemolytic conditions
High-density lipoproteins (HDLs) Men: 30-70 mg/dL Women:30-85 mg/dL Used to evaluate the risk of heart disease
Lactic dehydrogenase(LDH or LD) 95-200 U/L (Normal ranges vary greatly) Enzyme released in many kinds of tissue damage, including myocardial infarction, pulmonary infarction, and liver disease
Lipase 4-24 U/L (varies with test) Enzyme used to diagnose pancreatitis
Low-density lipoproteins (LDLs) 80-140 mg/dL Used to evaluate the risk of heart disease
Magnesium (Mg) 1.3-2.1 mEq/L Vital in neuromuscular function; decreased levels may occur in malnutrition, alcoholism, pancreatitis, diarrhea
Phosphorus ((Page*)) (inorganic) 2.7-4.5 mg/dL Evaluated in response to calcium; main store is in bone: elevated in kidney disease; decreased in excess parathyroid hormone
Protein, total 6-8 g/dL Increased in dehydration, multiple myeloma;decreased in kidney disease, liver disease, poor nutrition, severe burns, excessive bleeding
Serum glutamic oxalacetic transaminase (SGOT) > See Aspartate aminotransferase (AST)
Serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) > See Alanine aminotransferase (ALT)
Thyroxin (T4) 5-12.5 g/dL (varies) Screening test of thyroid function; increased in hyperthyroidism; decreased in myxedema and hypothyroidism
Thyroid-stimulatinghormone (TSH) 0.5-6 mlU/L Produced by pituitary to promote thyroid gland function; elevated when thyroid gland is not functioning
Triiodothyronine (T3) 120-195 mg/dL Elevated in specific types of hyperthyroidism
Triglycerides Men: 40-160 mg/dL Women: 35-135 mg/dL An indication of ability to metabolize fats; increased triglycerides and cholesterol indicate high risk of atherosclerosis
Uric acid Men: 3.5-7.2 mg/dL Women:2.6-6.0 mg/dL Produced by breakdown of ingested purines in food and nucleic acids; elevated in kidney disease, gout, and leukemia

Kamis, 26 April 2012

PX KEHAMILAN

Diposting oleh Unknown di 03.38 0 komentar
PEMERIKSAAN KEHAMILAN

Deteksi kehamilan dengan mengukur beta-HCG urin diantaranya adalah dengan metode aglutinasi (direct atau indirect) dan metode strip. Keduanya berdasarkan reaksi pembentukan kompleks antigen-antibody (immunoassay). Metode aglutinasi dapat mendeteksi adanya beta-HCG di urin minimal 200 mIU/ml sedangkan metode strip lebih sensitif yaitu minimal 20-25 mIU/ml. Metode strip ini yang lazim dilakukan karena selain lebih sensitif juga lebih praktis.
Reaksi antigen antibodi
Reaksi pembentukan kompleks antigen antibodi antara HCG sebagai antigen dan anti HCG sebagai antibody bersifat spesifik. Antibodi akan mengenali antigen pada lokasi tertentu yang disebut epitop. Antibodi poliklonal adalah antibodi yang mengenali suatu antigen melalui ikatan dengan epitop yang bervariasi karena berasal dari sel B yang berbeda-beda. Sedangkan antibodi monoklonal lebih spesifik mengenali antigen pada satu epitop tertentu karena berasal dari satu sel B yang dibiakan.

Terdapat 3 antibodi anti HCG pada strip
Antibodi tersebut adalah antibodi anti HCG yang pertama (kita sebut saja anti HCG-1), antibodi anti HCG yang kedua (anti HCG-2) dan anti-anti HCG-1 (antibodi dengan anti HCG-1 sebagai antigen). Ketiga antibodi itu terletak di lokasi yang berbeda dengan sifat yang berbeda pula. Anti HCG-1 bersifat mobile sehingga bisa ikut berpindah ke area Test (T) dan Control (C) melalui gerakan kapilaritas. Anti HCG-1 merupakan antibodi monoklonal sedangkan anti HCG-2 bersifat poliklonal. Anti HCG-2 di area T dan anti-anti HCG-1 di area C bersifat fixed atau tertanam, artinya tidak dapat berpindah sehingga tidak ikut mengalir/berpindah tempat.

Enzim terikat pada anti HCG-1
Enzim yang terikat anti HCG-1 akan menjadi enzim aktif bila ada ikatan antara anti HCG-1, HCG dan Anti HCG-2 di area T atau ikatan antara anti HCG-1 dan anti-anti HCG di area C. Enzim aktif di area T dan atau C akan mengubah substansi tak berwarna menjadi substansi berwarna merah.

Bila urin mengandung HCG
HCG sebagai antigen, akan berikatan dengan anti HCG. Gaya kapilaritas membawa senyawa ikatan HCG dan anti HCG-1 menuju daerah T. Di daerah T, anti HCG-2 akan berikatan dengan HCG yang telah berikatan dengan anti HCG-1 namun pada epitop yang berbeda. Terbentuklah kompleks anti HCG-1, HCG, dan anti HCG-2. Enzim menjadi aktif dan daerah T berwarna merah. Selanjutnya, sisa anti HCG-1 yang belum berikatan dengan HCG akan menuju daerah C dan berikatan dengan anti-anti HCG-1. Kompleks ini akan mengaktifkan enzin sehingga daerah T berwarna merah. Pada akhirnya, akan terlihat dua strip merah yaitu pada daerah T dan daerah C dan diintepretasikan sebagai hasil positif hamil.
Bila urin tidak mengandung HCG
AUrin tidak mengandung HCG sehingga tidak terjadi kompleks anti HCG-1 dengan HCG. anti HCG-1 yang bebas kemudian menuju ke area T tempat anti HCG-2. Karena tidak ada HCG maka tidak akan terjadi interaksi antara anti HCG1 dan anti HCG-2 melalui perlekatan dengan HCG pada epitop berbeda.Enzim pada anti HCG-1 tetap inaktif dan reaksi enzimatis pembentukan warna tidak terjadi. Akibatnya anti HCG-1 akan terus ikut gaya kapilaritas menuju daerah C. Di daerah ini terjadi kompleks antigen antibodi yaitu anti HCG-1 (sebagai antigen) dengan anti anti HCG-1 (sebagai antibodi terhadap anti-HCG-1). Kompleks ini membuat enzim aktif sehingga terbentuk warna merah. Warna merah hanya pada area C sehingga hanya ada satu garis dan diintepretasikan sebagai hasil negatif hamil (tidak hamil).

Selasa, 17 April 2012

Pemeriksaan Tinja

Diposting oleh Unknown di 18.10 0 komentar
BAB I
PENDAHULUAN

    Dalam keadaan normal dua pertiga tinja terdiri dari air dan sisa makanan, zat hasil sekresi saluran pencernaan, epitel usus,bakteri apatogen, asam lemak, urobilin, gas indol, skatol dan sterkobilinogen.
Pada keadaan patologik seperti diare didapatkan peningkatan sisa makanan dalam tinja, karena makanan melewati saluran pencernaan dengan cepat dan tidak dapat diabsorpsi secara sempurna.
    Bahan pemeriksaan tinja sebaiknya berasal dari defekasi spontan, jika pemeriksaan sangat diperlukan contoh tinja dapat diambil dengan jari bersarung dari rektum.
Untuk pemeriksaan rutin dipakai tinja sewaktu dan sebaiknya tinja diperiksa dalam keadaan segar karena bila dibiarkan mungkin sekali unsur unsur dalam tinja menjadi rusak. Pemeriksaan tinja terdiri atas pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia.
BAB II
ISI

1. PEMERIKSAAN MAKROSKOPIS

   Pemeriksaan makroskopik tinja meliputi pemeriksaan jumlah, warna, bau, darah, lendir dan parasit.1-4
a. jumlah
    Dalam keadaan normal jumlah tinja berkisar antara 100-250gram per hari. Banyaknya tinja dipengaruhi jenis makanan bila banyak makan sayur jumlah tinja meningkat.2,3
b. konsistensi
    Tinja normal mempunyai konsistensi agak lunak dan bebentuk. Pada diare konsistensi menjadi sangat lunak atau cair, sedangkan sebaliknya tinja yang keras atau skibala didapatkan pada konstipasi. Peragian karbohidrat dalam usus menghasilkan tinja yang lunak dan bercampur gas.2,3
c.  Warna
    Tinja normal kuning coklat dan warna ini dapat berubah mejadi lebih tua dengan terbentuknya urobilin lebih banyak. Selain urobilin warna tinja dipengaruhi oleh berbagai jenis makanan, kelainan dalam saluran pencernaan dan obat yang dimakan. Warna kuning dapat disebabkan karena susu,jagung, lemak dan obat santonin. Tinja yang berwarna hijau dapat disebabkan oleh sayuran yang mengandung khlorofil atau pada bayi yang baru lahir disebabkan oleh biliverdin dan porphyrin dalam mekonium.3,4 Kelabu mungkin disebabkan karena tidak ada urobilinogen dalam saluran pencernaan yang didapat pada ikterus obstruktif, tinja tersebut disebut akholis. Keadaan tersebut mungkin didapat pada defisiensi enzim pankreas seperti pada steatorrhoe yang menyebabkan makanan mengandung banyak lemak yang tidak dapat dicerna dan juga setelah pemberian garam barium setelah pemeriksaan
radiologik. Tinja yang berwarna merah muda dapat disebabkan oleh perdarahan yang segar dibagian distal, mungkin pula oleh makanan seperti bit atau tomat. Warna coklat mungkin disebabkan adanya perdarahan dibagian proksimal saluran
pencernaan atau karena makanan seperti coklat, kopi dan lain-lain. Warna coklat tua disebabkan urobilin yang berlebihan seperti pada anemia hemolitik. Sedangkan warna hitam dapat disebabkan obat yang yang mengandung besi, arang atau bismuth dan mungkin juga oleh melena.1-4
d. bau
    Indol, skatol dan asam butirat menyebabkan bau normal pada tinja. Bau busuk didapatkan jika dalam usus terjadi pembusukan protein yang tidak dicerna dan dirombak oleh kuman. Reaksi tinja menjadi lindi oleh pembusukan semacam itu. Tinja yang berbau tengik atau asam disebabkan oleh peragian gula yang tidak dicerna seperti pada diare. Reaksi tinja pada keadaan itu menjadi asam.2,3
e. darah
    Adanya darah dalam tinja dapat berwarna merah muda,coklat atau hitam. Darah itu mungkin terdapat di bagian lua rtinja atau bercampur baur dengan tinja. Pada perdarahan proksimal saluran pencernaan darah akan bercampur dengan tinja dan warna menjadi hitam, ini disebut melena seperti pada tukak lambung atau varices dalam oesophagus. Sedangkan pada perdarahan di bagian distal saluran pencernaan darahterdapat di bagian luar tinja yang berwarna merah muda yang dijumpai pada hemoroid atau karsinoma rektum.2,3,4
f. lendir
Dalam keadaan normal didapatkan sedikit sekali lendir dalam tinja. Terdapatnya lendir yang banyak berarti ada rangsangan atau radang pada dinding usus. Kalau lendir itu hanya didapat di bagian luar tinja, lokalisasi iritasi itu mungkin terletak pada usus besar. Sedangkan bila lendir bercampur baur dengan tinja mungkin sekali iritasi terjadi pada usus halus. Pada disentri, intususepsi dan ileokolitis bisa didapatkan lendir saja tanpa tinja.2,3
g. parasit
    Diperiksa pula adanya cacing ascaris, anylostoma dan lain-
lain yang mungkin didapatkan dalam tinja.


2. PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS

Pemeriksaan mikroskopik meliputi pemeriksaan protozoa, telur cacing, leukosit, eritosit, sel epitel, kristal dan sisa makanan. Dari semua pemeriksaan ini yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap protozoa dan telur cacing.
a. Protozoa
    Biasanya didapati dalam bentuk kista, bila konsistensi tinja cair baru didapatkan bentuk trofozoit.
gambar protozoa pada mikroskopis tinja ( sumber : google )
b. Telur cacing
Telur cacing yang mungkin didapat yaitu Ascaris lumbricoides, Necator americanus, Enterobius vermicularis, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis dan sebagainya.2,3
telur Ascaris lumbricoides (sumber:google) telur cacing tambang (sumber:googl
c. leukosit
   Dalam keadaan normal dapat terlihat beberapa leukosit dalam seluruh sediaan. Pada disentri basiler, kolitis ulserosa dan peradangan didapatkan peningkatan jumlah leukosit.2,3Eosinofil mungkin ditemukan pada bagian tinja yang berlendir pada penderita dengan alergi saluran pencenaan.3
d. eritrosit
    Eritrosi thanya terlihat bila terdapat lesi dalam kolon, rektum atau anus. Sedangkan bila lokalisasi lebih proksimal eritrosit telah hancur. Adanya eritrosit dalam tinja selalu berarti abnormal.
f. epitel
    Dalam keadaan normal dapat ditemukan beberapa sel epite lyaitu yang berasal dari dinding usus bagian distal. Sel epitelyang berasal dari bagian proksimal jarang terlihat karena sel inibiasanya telah rusak. Jumlah sel epitel bertambah banyak kalau ada perangsangan atau peradangan dinding usus bagian distal.1-3
g. kristal
    Kristal dalam tinja tidak banyak artinya. Dalam tinja normal mungkin terlihat kristal tripel fosfat, kalsium oksalat dan asam lemak. Kristal tripel fosfat dan kalsium oksalat didapatkan setelah memakan bayam atau strawberi, sedangkan kristal asam lemak didapatkan setelah banyak makan lemak. Sebagai kelainan mungkin dijumpai kristal Charcoat Leyden Tinja LUGOL Butir-butir amilum dan kristal hematoidin. Kristal Charcoat Leyden didapat pada ulkus saluran pencernaan seperti yang disebabkan amubiasis. Pada perdarahan saluran pencernaan mungkin didapatkan kristal hematoidin.2,3
kristal hemetoidin (sumber:google)
h. Sisa makanan
   Hampir selalu dapat ditemukan juga pada keadaan normal, tetapi dalam keadaan tertentu jumlahnya meningkat dan hal ini dihubungkan dengan keadaan abnormal. Sisa makanan sebagian berasal dari makanan daun-daunan dan sebagian lagi berasal dari hewan seperti serat otot, serat elastisdan lain-lain. Untuk identifikasi lebih lanjut emulsi tinja dicampur dengan larutan lugol untuk menunjukkan adanya amilum yang tidak sempurna dicerna. Larutan jenuh Sudan IIIatau IV dipakai untuk menunjukkan adanya lemak netral seperti pada steatorrhoe.2 Sisa makanan ini akan meningkat jumlahnya pada sindroma malabsorpsi.

3. PEMERIKSAAN KIMIA TINJA.

   Pemeriksaan kimia tinja yang terpenting adalah pemeriksaan
terhadap darah samar. Tes terhadap darah samar untukmengetahui adanya perdarahan kecil yang tidak dapat dinyatakan secara makroskopik atau mikroskopik.2,3,4 Adanya darah dalam tinja selalau abnormal. Pemeriksaan darah samar dalam tinja dapat dilakukan dengan menggunakan tablet reagens. Prinsip pemeriksaan ini hemoglobin yang bersifat sebagai peroksidase akan menceraikan hidrogen peroksida menjadi air dan 0 nascens (On). On akan mengoksidasi zat warna tertentu yang menimbulkan perubahan warna 4,5
Tablet Reagens banyak dipengaruhi beberapa faktor terutama pengaruh makanan yang mempunyai aktifitas sebagai peroksidase sering menimbulkan reaksi positif palsu seperti daging, ikan sarden dan lain lain. Menurut kepustakaan, pisang dan preparat besi seperti ferrofumarat dan ferro carbonat dapat menimbulkan reaksi positif palsu dengan tablet reagens. Maka dianjurkan untuk menghindari makanan tersebut diatas selama 3-4 hari sebelum dilakukan pemeriksaan darah samar.4,5 Pemeriksaan bilirubin akan beraksi negatif pada tinja normal,karena bilirubin dalam usus akan berubah menjadi urobilinogen dan kemudian oleh udara akan teroksidasi menjadi urobilin. Reaksi mungkin menjadi positif pada diare dan pada keadaan yang menghalangi perubahan bilirubin menjadi urobilinogen, seperti pengobatan jangka panjang dengan
antibiotik yang diberikan peroral, mungkin memusnakan flora usus yang menyelenggarakan perubahan tadi.1,2,3 Dalam tinja normal selalu ada urobilin. Jumlah urobilin aka nberkurang pada ikterus obstruktif, jika obstruktif total hasil tes
menjadi negatif, tinja berwarna kelabu disebut akholik. Penetapan kuantitatif urobilinogen dalam tinja memberikan hasil yang lebih baik jika dibandingkan terhadap tes urobilin,karena dapat menjelaskan dengan angka mutlak jumlah
urobilinogen yang diekskresilkan per 24 jam sehingga bermakna
dalam keadaan seperti anemia hemolitik dan ikterus obstruktif.2
Tetapi pelaksanaan untuk tes tersebut sangat rumit dan sulit, karena itu jarang dilakukan di laboratorium. Bila masih diinginkan penilaian ekskresi urobilin dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan urobilin urin.

Senin, 16 April 2012

PENYAKIT ASMA

Diposting oleh Unknown di 03.32 1 komentar
PENYAKIT ASMA


   Asma adalah penyakit inflamasi (radang) kronik saluran napas menyebabkan peningkatan hiperesponsif jalan nafas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi (nafas berbunyi ngik-ngik), sesak nafas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam menjelang dini hari. 
Gejala tersebut terjadi berhubungan dengan obstruksi jalan nafas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversible dengan atau tanpa pengobatan. 
Seperti diketahui, saluran napas manusia bermula dari mulut dan hidung, lalu bersatu di daerah leher menjadi trakea (tenggorok) yang akan masuk ke paru. Di dalam paru, satu saluran napas trakea itu akan bercabang dua, satu ke paru kiri dan satu lagi ke paru kanan. Setelah itu, masing-masing akan bercabang-cabang lagi, makin lama tentu makin kecil sampai 23 kali dan berujung di alveoli, tempat terjadi pertukaran gas, oksigen (O 2 ) masuk ke pembuluh darah, dan karbon dioksida (CO 2 ) dikeluarkan.

Yang beresiko terkena penyakit asma ?
  Asma adalah penyakit yang dapat terjadi pada siapa saja dan dapat timbul segala usia, meskipun demikian, umumnya asma lebih sering terjadi pada anak-anak usia dibawah lima tahun dan orang dewasa pada usia sekitar tigapuluh tahunan. Para ahli asma mempercayai bahwa asma merupakan penyakit keturunan dan sebagian besar orang yang menderita asma karena allergi terhadap sumber allergi tertentu.
Gejala ASMA ?
       Secara umum gejala asma adalah sesak napas, batuk berdahak dan suara napas yang berbunyi ngik-ngik dimana seringnya gejala ini timbul pada pagi hari menjelang waktu subuh, hal ini karena pengaruh keseimbangan hormon kortisol yang kadarnya rendah ketika pagi dan berbagai faktor lainnya.

      Penderita asma akan mengeluhkan sesak nafas karena udara pada waktu bernafas tidak dapat mengalir dengan lancar pada saluran nafas yang sempit dan hal ini juga yang menyebabkan timbulnya bunyi ngik-ngik pada saat bernafas. Pada penderita asma, penyempitan saluran pernafasan yang terjadi dapat berupa pengerutan dan tertutupnya saluran oleh dahak yang dirpoduksi secara berlebihan dan menimbulkan batuk sebagai respon untuk mengeluarkan dahak tersebut. Gambar dibawah ini adalah gambar penampang paru dalam keadaan normal dan saat serangan asma.
      Pada saat serangan, penderita asma bisa kelihatan amat menderita (banyak batuk, sesak napas hebat dan bahkan sampai seperti tercekik), tetapi di luar serangan dia sehat-sehat saja (bisa main tenis 2 set, bisa jalan-jalan keliling taman, dan lain-lain). Inilah salah satu hal yang membedakannya dengan penyakit lain (keluhan sesak pada asma adalah revesibel, bisa baik kembali di luar serangan, sementara pada PPOK adalah irreversible , tetap saja sesak setiap waktu).
Pengobatan asma ?
     Penanganan asma yang paling efektif adalah dengan menghindari faktor-faktor pencetus asma dan menggunakan obat asma untuk mengurangi pembengkakan saluran pernafasan. Pengobatan asma secara cepat/jangka pendek yaitu dengan menggunakan ob at pelega saluran pernafasan seperti inhaler dan nebulizer yang berfungsi menghentikan serangan asma. Pengobatan jangka panjang yang berfungsi untuk mencegah terjadinya serangan asma adalah dengan menggunakan obat-obatan seperti steroid berfungsi untuk tetap membuat saluran pernafasan terbuka dan menggurangi pembengkakan.

Jumat, 13 April 2012

Pemeriksaan spermatologi (kimia klinik)

Diposting oleh Unknown di 05.58 0 komentar

PEMERIKSAAN DAN GANGGUAN SPERMA


  Pengambilan sample



                        Sperma sebaiknya diperoleh dengan cara masturbasi dan ditampung dalam botol kaca bermulut lebar, sperma tidak boleh dibiarkan pada udara terbuka, karena sperma dapat mati setelah 5 detik setelah dibiarkan pada udara terbuka. Sperma diantar ke laboratorium dalam waktu 1 jam setelah dikeluarkan, sperma dilindungi dari suhu yang ekstrim selama pengangkutan ke laboratorium suhunya berkisar antara 20-40 derajat celcius.

B. Makroskopis
            a. warna                     : putih kelabu
            b. bau             : akasia , jika bau busuk,berarti ada infeksi
            c. konsistensi : agak kental
            d. liquefacion : mencair dalam waktu 15-20 menit
            e. volume                   : 2 – 5 ml
            f. ph                             : 7,2 – 7,8

Catatan :
                        sperma yang keluar selalu menunjukkan adanya gumpalan diantara lendir putih yang cair,gumpalan tersebut akan mencair dalam waktu 15-20 menit,jika > 20 menit berarti ada gangguan pada kelenjar prostat.

C. Mikroskopis
a. Morfologi
            Pemeriksaan morfologi sperma ditujukan untuk melihat bentuk-bentuk sperma yang didasarkan atas bentuk kepala, sperma normal kepalanya berbentuk oval,reguler dengan bagian tengah utuh & punya ekor yang panjang dan tidak melingkar, dengan panjang 45um.
     Spermatozoa disebut mempunyai kualitas bentuk yang cukup baik apabila 50% spermatozoa mempunya bentuk normal. Pemeriksaan morfologi mecakup bagian kepala, leher dan ekor dari sperma. Bila > 50% spermatozoa mempunyai morfologi abnormal maka disebut Teratozoospermia.
 
b. Motilitas
            Sperma bergerak dengan maksud agar sampai di alat reproduksi wanita untuk pembuahan,energinya bersumber pada bagia tengah sperma.
            Pergerakan spermatozoa dapat dibagi menjadi beberapa grade , meliputi :
            o = spermatozoa tidak menunjukkan pergerakan
            1 = spermatozoa bergerak kedepan dengan lambat
            2 = spermatozoa bergerak kedepan dengan cepat
3 = spermatozoa bergerak kedepan dengan sangat cepat



c. Jumlah sperma
            Normal = 20 – 250 juta/ml
            terdapat istilah dalam jumlah sperma, antara lain :
            0 juta/ml                      Azoospermia
            0 – 5 juta/ml                           Ekstrimoligozoospermia
            < 20    juta/ml                     Oligozoospermia
            > 250 juta/ml           Polizoospermia

d. Adanya sel-sel bukan sperma
                        Dalam cairan ejakulat terdapat benda-benda bukan sperma,benda-benda itu berasal dari saluran genital atau kelenjar asesoria,benda hidup maupun benda mati.
benda hidup :                        benda mati :
•       parasit                 - sel epitel      
•      Jamur                   - kristal-kristal
•      Bakteri                  - lemak
                                                - benda prostat


e. Aglutinasi sperma
                        Aglutinasi ialah Penggumpalan / perlekatan antara satu sperma dengan beberapa sperma yang lain.




 

D. Uji biokimiawi
            Dilakukan bila ada kelainan mikroskopik dan makroskopik, menunjuk pada fungsi kelenjar asesori
•      prostat → kadar asam sitrat, gamma glutamil transpeptidase dan fosfatase asam.
•      epididimis → kadar karnitin bebas alfa glukosidase
Uji biokimiawi semen untuk menilai kemampuan sekresi prostat adalah mengukur kadar seng dan asam sitrat. Sekret kelenjar prostat merupakan bagian yang meliputi 15-30% volume semen total.

E. Uji Imunologi
                        Pemeriksaan imunologi dilakukan karena adanya antibodi pelapis semen tersebut, antibodi pelpis sperma merupakan tanda khas dan patognomonik untuk infertilitas yang disebabkan faktor imunologi. Antibodi sperma ada 2 kelas imunologi, yaitu IgA dan IgG.

F. Uji mikrobiologi
                        pemeriksaan mikrobiologi dilakukan jika dicurigai adanya infeksi mikroba pada semen tersebut.
                        Pemeriksaan lainnya berupa pemeriksaan air seni pertama dan kedua serta cairan prostat yang dipeoleh melalui pemijatan prostat dan air seni setelah pemijatan prostat.

GANGGUAN SPERMA

Macam – macam gangguan sperma :
11.      Azoospermia : keadaan dimana dalam cairan ejakulat tidak ditemukan sperma
22.      Aspermatogenesis : tidak terjadi pembuahan sperma di dalam testis
33.      Aspermia : tidak terdapat ejakulat
44.      Hypospermia : volume ejakulat < 1ml
55.      Hyperspermia : volume ejakulat >6ml
66.      Oligospermia : jumlah sperma dibawah 20juta/ml
77.      Asthenospermia : jumlah sperma bergerak < 50%
88.      Necrospermia : keadaan dimana jumlah semua sperma dalam keadaan mati
99.      Teratozoospermia : bentuk sperma yang abnormal 
10.    Polizoospermia : bila jumlah sperma > 250juta/ml 
11.       Leukospermia : warna sperma putih susu karena terdapat banyak leukosit
12.       Hemospermia : warna soperma kemerahan karena terdapat banyak erytrosit 
13. Dan lain sebagainya …..




Tampilkan postingan dengan label pemeriksaan klinik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemeriksaan klinik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Mei 2012

pemeriksaan sumsum tulang

SUMSUM TULANG

(PUNKSI,  MEMBUAT DAN MEMULAS SEDIAAN)


Untuk mendapat keterangan tentang hematopoesis yang berlangsung dalam sumsum tulang,  sejumlah kecil sumsum di ambil dengan memakai jarum khusus yang dibuat dengan maksud tersebut.
Pada orang dewasa punksi sumsum sering dilakukan pada corpus sterni setinggi sela iga ketiga. Tempat lain ialah os ileum sedikit dibawah crista iliaca atau salah satu processus spinosus vertebrae lumbalis. Pada anak kurang dari 2 tahun, punksi dapat dilakukan juga pada ujung kranial dan sebelah medial os tibia. Menurut keadaan klinik, tempat lain-lain pun dapat dipakai untuk punksi.
Bahan yang didapat pada punksi dapat dipakai untuk bermacam-macam pemeriksaan : sediaan apus dipulas wright atau dipulas terhadap hemosiderin, sediaan penampang, pemeriksaan sel  LE, untuk pemeriksaan bakteriologi, dll.
Disini hanya diterangkan beberapa pemeriksaan hematologi saja.

A.        PUNKSI SUMSUM TULANG TANPA ANTICOAGULANT
1.       Jika dianggap perlu kepada orang sakit boleh diberikan obat penenang, umpamanya diazepam.
2.       Tempat punksi harus bersih, kalau perlu cucilah dulu dengan air dan sabun.
3.       Desinfeksikanlah tempat itu dengan tct. Iodii 5% atau desinfektans lain dan kemudian dengan alkohol 70%. Biarkan kering lagi.
4.       Lakukanlan anestesi setempat memakai larutan procain, lidocain, dsb 1% atau 2% dengan juga menginfiltrasi periost.
5.       Jarum sumsum dengan mandrennya terpasang ditusukkan ke dalam kulit sampai tertumbuk tulang. Teruskanlah pemasukan jarum itu dengan mengadakan tekanan sambil menggerakkan jarum seperti membor sampai ujung jarum masuk rongga sumsum.
6.       Angkatlah mandren dan pasanglah semprit 10 atau 20 ml.
7.       Isaplah sumsum dengan cepat menarik pengisap semprit itu. Kalau diperoleh aspirat (sumsum bercampur darah dari sinus) sebanyak 0.3 ml berhentilah.
8.       Cabutlah jarum bersama semprit dan kenakanlah tekanan dengan gumpalan kassa steril pada luka, tekanlah selama beberapa menit.
9.       Tutuplah luka dengan kassa steril dan plester.

B.        PUNKSI SUMSUM TULANG MEMAMKAI ANTICOAGULANT
Semua tindakan sama seperti tertulis diatas. Perbedaannya : semprit diisi terlebih dahulu dengan sejumlah kecil anticoagulant steril dalam larutan heparin atau EDTA 10%. Jumlah bahan yang dihisap boleh ;ebih banyak, yaitu 4-5 ml. Campurlah baik-baik dalam semprit seterlah aspirat didapat supaya tidak membeku.


CATATAN :
Dari jarum sumsum dikenal beberapa bentuk, yang mana juga dipakai hendaknya pucuknya pendek, tajam, da lurus. Manden harus tepat mengisi lumen jarum itu yang diameternya 1-2 mm.
Segala tindakan pada punksi harus dilakukan dengan mengingat syarat-syarat aseptis. Berhati-hatilah melakukan punksi pada seseorang yang menderita diatesis hemoragik dengan masa perdarahan yang memanjang.
Kebanyakan penderita lebih suka diambil sumsum tulangnya dari crista iliaca atau dari vertebrata daripada dari sternum. Pada waktu mengisap sumsum tulang penderita berasa nyeri, lebih banyak diisap, lebih nyeri. Dipihak lain, menghisap lebih banyak sumsum dengan memakai anticoagulant memberi kesempatan pada pemeriksa untuk mempelajari aspirat dengan cara makroskopik, ia dapat menilai banyaknya partikel sumsum dalam aspirat dibandingkan dengan seluruh volume aspirat, ia dapat memperhatikan besarnya partikel-partikel dan ia dapat membuat sediaan dengan hanya memakai partikel saja sehingga tidak terlalu diganggu oleh adanya unsur-unsur darah tepi.

C.         MEMBUAT SEDIAA APUS SUMSUM TULANG
1.       Taruhlah setetes besar ke atas beberapa kaca objek dan miringkanlah kaca itu sehingga darah mengalir dan potongan somsum terlihat.
2.       Isaplah kelebihan darah memakai sepotong kertas saing atau dengan pipet pasteur.
3.       Buatlah sediaan apus dari potongan sumsum itu dan pulaslah dengan Wright.

CATATAN :
Jika bahan bercampur anticoagulant, keluarkanlah bahan ke dalam gelas arloji atau cawan petri, carilah potongan-potongan sumsum dan buatlah sediaan apus seperti biasa dari potongan-potongan itu. Selain dibuat sediaan apus, partikel-partikel dalam aspirat ber-anticoagulant juga dapat dipakai untuk membuat sediaan yang hampir tidak berisi unsur darah tepi. Dengan memakai  ujung jarum terlebih dulu beberapa partikel dipersatukan, kemudian kumpulan itu digeser –pindahkan tanpa tekanan diatas kaca objek memakai ujung jarum tadi sehingga pada akhirnya diperoleh sediaan yang bebas dari erytrosit-erytrosit. Sediaan yang dibuat dengan cara ini memperlihatkan penyebaran sel-sel sumsum tulang yang mendekati struktur aslinya.
Apabila hanya sedikit sekali sumsum tulang yang didapat atau sama sekali tidak kelihatan adanya potongan sumsum tulang, masukkanlah bahan itu kedalam tabung-tabung wintrobe dan pusinglah selama 7 menit pada kecepatan 2000 rpm. Oleh tindakan itu potongan-potongan sumsum akan terapung diatas seperti buffy coat dan dapat diambil dengan pipet untuk membuat sediaan apus. Tindakan memusing bahan aspirasi sumsum hanya boleh dilakukan sebagai tindakan darurat. Proses pemusingan mungkin sekali mengganggu penyebaran sel-sel berinti  dalam bahan itu, sehingga gambaran sumsum menjadi tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.
 
         D.   MEMBUAT SEDIAAN SUMSUM UNTUK PENAMPANG
Baiknya selalu memasukkan sebagian dari bahan memakai atau tanpa anticoagulant yang mengandung potongan sumsum kedalam larutan formaldehida 4%. Bahan dalam formalin itu kemudian dipakai untuk membuat penampang histologik, dipulas hematoxylin-eosin. Pemeriksaan penampang sumsum tulang, struktur itu tidak mungkin diketahui dari sediaan apus.
Agar dapat dipelajari struktur sumsum bersama tulang dalam hubungan histologiknya, sebaiknya dibuat biopsi dengan trepan. Penampang yang dibuat secara itu dapat memberi keterangan mengenai anemia aplastik, fibrosis, sklerosis, dll. Dilain pihak, penampang tidak baik untuk meneliti morfologi sel satu persatu.

Selasa, 01 Mei 2012

Reference Values ​​Blood Chemistry Examination

TEST NORMAL VALUE* CLINICAL SIGNIFICANCE
Blood urea nitrogen (BUN) 7-18 mg/dL Increased in renal disease and dehydration; decreased in liver damage and malnutrition
Carbon dioxide (CO2) (includes bicarbonate) 23-30 mmol/L Useful to evaluate acid-base balance by measuring total carbon dioxide in the blood: Elevated in vomiting and pulmonary disease; decreased in diabetic acidosis, acute renal failure, and hyperventilation
Chloride (Cl) 98-106 mEq/L Increased in dehydration, hyperventilation, and congestive heart failure; decreased in vomiting,diarrhea, and fever
Creatinine 0.6-1.2 mg/dL Produced at a constant rate and excreted by the kidney; increased in kidney disease
Glucose Fasting: 70-110 mg/dL Random: 85-125 mg/dL Increased in diabetes and severe illness; decreased in insulin overdose or hypoglycemia
Potassium (K) 3.5-5 mEq/L Increased in renal failure, extensive cell damage, and acidosis; decreased in vomiting, diarrhea, and excess administration of diuretics or IV fluids
Sodium (Na) 101-111 mEq/L or 135-148 mEq/L (depending on test) Increased in dehydration and diabetes insipidus; decreased in overload of IV fluids, burns,diarrhea, or vomiting
Alanine aminotransferase (ALT) 10-40 U/L Used to diagnose and monitor treatment of liver disease and to monitor the effects of drugs on the liver; increased in myocardial infarction
Albumin 3.8-5.0 g/dL Albumin holds water in blood; decreased in liver disease and kidney disease
Albumin-globulin ratio (A/G ratio) Greater than 1 Low A/G ratio signifies a tendency for edema because globulin is less effective than albumin at holding water in the blood
Alkaline phosphatase (ALP) 20-70 U/L (varies by method) Enzyme of bone metabolism; increased in liver disease and metastatic bone disease
Amylase 21-160 U/L Used to diagnose and monitor treatment of acute pancreatitis and to detect inflammation of the salivary glands
Aspartate aminotransferase (AST) 0-41 U/L (varies) Enzyme present in tissues with high metabolic activity; increased in myocardial infarction and liver disease
Bilirubin, total 0.2-1.0 mg/dL Breakdown product of hemoglobin from red blood cells; increased when excessive red blood cells are being destroyed or in liver disease
Calcium (Ca) 8.8-10.0 mg/dL Increased in excess parathyroid hormone production and in cancer; decreased in alkalosis, elevated phosphate in renal failure, and excess IV fluids
Cholesterol 120-220 mg/dL desirable range Screening test used to evaluate risk of heart disease; levels of 200 mg/dL or above indicate increased risk of heart disease and warrant further investigation
Creatine phosphokinase (CPK or CK) Men: 38-174 U/L Women: 96-140 U/L Elevated enzyme level indicates myocardial infarction or damage to skeletal muscle. When elevated,specific fractions (isoenzymes) are tested for
Gamma-glutamyl transferase (GGT) Men: 6-26 U/L Women: 4-18 U/L Used to diagnose liver disease and to test for chronic alcoholism
Globulins 2.3-3.5 g/dL Proteins active in immunity; help albumin keep water in blood
Iron, serum (Fe) Men: 75-175 g/dL Women:65-165 /dL Decreased in iron deficiency and anemia; increased in hemolytic conditions
High-density lipoproteins (HDLs) Men: 30-70 mg/dL Women:30-85 mg/dL Used to evaluate the risk of heart disease
Lactic dehydrogenase(LDH or LD) 95-200 U/L (Normal ranges vary greatly) Enzyme released in many kinds of tissue damage, including myocardial infarction, pulmonary infarction, and liver disease
Lipase 4-24 U/L (varies with test) Enzyme used to diagnose pancreatitis
Low-density lipoproteins (LDLs) 80-140 mg/dL Used to evaluate the risk of heart disease
Magnesium (Mg) 1.3-2.1 mEq/L Vital in neuromuscular function; decreased levels may occur in malnutrition, alcoholism, pancreatitis, diarrhea
Phosphorus ((Page*)) (inorganic) 2.7-4.5 mg/dL Evaluated in response to calcium; main store is in bone: elevated in kidney disease; decreased in excess parathyroid hormone
Protein, total 6-8 g/dL Increased in dehydration, multiple myeloma;decreased in kidney disease, liver disease, poor nutrition, severe burns, excessive bleeding
Serum glutamic oxalacetic transaminase (SGOT) > See Aspartate aminotransferase (AST)
Serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) > See Alanine aminotransferase (ALT)
Thyroxin (T4) 5-12.5 g/dL (varies) Screening test of thyroid function; increased in hyperthyroidism; decreased in myxedema and hypothyroidism
Thyroid-stimulatinghormone (TSH) 0.5-6 mlU/L Produced by pituitary to promote thyroid gland function; elevated when thyroid gland is not functioning
Triiodothyronine (T3) 120-195 mg/dL Elevated in specific types of hyperthyroidism
Triglycerides Men: 40-160 mg/dL Women: 35-135 mg/dL An indication of ability to metabolize fats; increased triglycerides and cholesterol indicate high risk of atherosclerosis
Uric acid Men: 3.5-7.2 mg/dL Women:2.6-6.0 mg/dL Produced by breakdown of ingested purines in food and nucleic acids; elevated in kidney disease, gout, and leukemia

Kamis, 26 April 2012

PX KEHAMILAN

PEMERIKSAAN KEHAMILAN

Deteksi kehamilan dengan mengukur beta-HCG urin diantaranya adalah dengan metode aglutinasi (direct atau indirect) dan metode strip. Keduanya berdasarkan reaksi pembentukan kompleks antigen-antibody (immunoassay). Metode aglutinasi dapat mendeteksi adanya beta-HCG di urin minimal 200 mIU/ml sedangkan metode strip lebih sensitif yaitu minimal 20-25 mIU/ml. Metode strip ini yang lazim dilakukan karena selain lebih sensitif juga lebih praktis.
Reaksi antigen antibodi
Reaksi pembentukan kompleks antigen antibodi antara HCG sebagai antigen dan anti HCG sebagai antibody bersifat spesifik. Antibodi akan mengenali antigen pada lokasi tertentu yang disebut epitop. Antibodi poliklonal adalah antibodi yang mengenali suatu antigen melalui ikatan dengan epitop yang bervariasi karena berasal dari sel B yang berbeda-beda. Sedangkan antibodi monoklonal lebih spesifik mengenali antigen pada satu epitop tertentu karena berasal dari satu sel B yang dibiakan.

Terdapat 3 antibodi anti HCG pada strip
Antibodi tersebut adalah antibodi anti HCG yang pertama (kita sebut saja anti HCG-1), antibodi anti HCG yang kedua (anti HCG-2) dan anti-anti HCG-1 (antibodi dengan anti HCG-1 sebagai antigen). Ketiga antibodi itu terletak di lokasi yang berbeda dengan sifat yang berbeda pula. Anti HCG-1 bersifat mobile sehingga bisa ikut berpindah ke area Test (T) dan Control (C) melalui gerakan kapilaritas. Anti HCG-1 merupakan antibodi monoklonal sedangkan anti HCG-2 bersifat poliklonal. Anti HCG-2 di area T dan anti-anti HCG-1 di area C bersifat fixed atau tertanam, artinya tidak dapat berpindah sehingga tidak ikut mengalir/berpindah tempat.

Enzim terikat pada anti HCG-1
Enzim yang terikat anti HCG-1 akan menjadi enzim aktif bila ada ikatan antara anti HCG-1, HCG dan Anti HCG-2 di area T atau ikatan antara anti HCG-1 dan anti-anti HCG di area C. Enzim aktif di area T dan atau C akan mengubah substansi tak berwarna menjadi substansi berwarna merah.

Bila urin mengandung HCG
HCG sebagai antigen, akan berikatan dengan anti HCG. Gaya kapilaritas membawa senyawa ikatan HCG dan anti HCG-1 menuju daerah T. Di daerah T, anti HCG-2 akan berikatan dengan HCG yang telah berikatan dengan anti HCG-1 namun pada epitop yang berbeda. Terbentuklah kompleks anti HCG-1, HCG, dan anti HCG-2. Enzim menjadi aktif dan daerah T berwarna merah. Selanjutnya, sisa anti HCG-1 yang belum berikatan dengan HCG akan menuju daerah C dan berikatan dengan anti-anti HCG-1. Kompleks ini akan mengaktifkan enzin sehingga daerah T berwarna merah. Pada akhirnya, akan terlihat dua strip merah yaitu pada daerah T dan daerah C dan diintepretasikan sebagai hasil positif hamil.
Bila urin tidak mengandung HCG
AUrin tidak mengandung HCG sehingga tidak terjadi kompleks anti HCG-1 dengan HCG. anti HCG-1 yang bebas kemudian menuju ke area T tempat anti HCG-2. Karena tidak ada HCG maka tidak akan terjadi interaksi antara anti HCG1 dan anti HCG-2 melalui perlekatan dengan HCG pada epitop berbeda.Enzim pada anti HCG-1 tetap inaktif dan reaksi enzimatis pembentukan warna tidak terjadi. Akibatnya anti HCG-1 akan terus ikut gaya kapilaritas menuju daerah C. Di daerah ini terjadi kompleks antigen antibodi yaitu anti HCG-1 (sebagai antigen) dengan anti anti HCG-1 (sebagai antibodi terhadap anti-HCG-1). Kompleks ini membuat enzim aktif sehingga terbentuk warna merah. Warna merah hanya pada area C sehingga hanya ada satu garis dan diintepretasikan sebagai hasil negatif hamil (tidak hamil).

Selasa, 17 April 2012

Pemeriksaan Tinja

BAB I
PENDAHULUAN

    Dalam keadaan normal dua pertiga tinja terdiri dari air dan sisa makanan, zat hasil sekresi saluran pencernaan, epitel usus,bakteri apatogen, asam lemak, urobilin, gas indol, skatol dan sterkobilinogen.
Pada keadaan patologik seperti diare didapatkan peningkatan sisa makanan dalam tinja, karena makanan melewati saluran pencernaan dengan cepat dan tidak dapat diabsorpsi secara sempurna.
    Bahan pemeriksaan tinja sebaiknya berasal dari defekasi spontan, jika pemeriksaan sangat diperlukan contoh tinja dapat diambil dengan jari bersarung dari rektum.
Untuk pemeriksaan rutin dipakai tinja sewaktu dan sebaiknya tinja diperiksa dalam keadaan segar karena bila dibiarkan mungkin sekali unsur unsur dalam tinja menjadi rusak. Pemeriksaan tinja terdiri atas pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia.
BAB II
ISI

1. PEMERIKSAAN MAKROSKOPIS

   Pemeriksaan makroskopik tinja meliputi pemeriksaan jumlah, warna, bau, darah, lendir dan parasit.1-4
a. jumlah
    Dalam keadaan normal jumlah tinja berkisar antara 100-250gram per hari. Banyaknya tinja dipengaruhi jenis makanan bila banyak makan sayur jumlah tinja meningkat.2,3
b. konsistensi
    Tinja normal mempunyai konsistensi agak lunak dan bebentuk. Pada diare konsistensi menjadi sangat lunak atau cair, sedangkan sebaliknya tinja yang keras atau skibala didapatkan pada konstipasi. Peragian karbohidrat dalam usus menghasilkan tinja yang lunak dan bercampur gas.2,3
c.  Warna
    Tinja normal kuning coklat dan warna ini dapat berubah mejadi lebih tua dengan terbentuknya urobilin lebih banyak. Selain urobilin warna tinja dipengaruhi oleh berbagai jenis makanan, kelainan dalam saluran pencernaan dan obat yang dimakan. Warna kuning dapat disebabkan karena susu,jagung, lemak dan obat santonin. Tinja yang berwarna hijau dapat disebabkan oleh sayuran yang mengandung khlorofil atau pada bayi yang baru lahir disebabkan oleh biliverdin dan porphyrin dalam mekonium.3,4 Kelabu mungkin disebabkan karena tidak ada urobilinogen dalam saluran pencernaan yang didapat pada ikterus obstruktif, tinja tersebut disebut akholis. Keadaan tersebut mungkin didapat pada defisiensi enzim pankreas seperti pada steatorrhoe yang menyebabkan makanan mengandung banyak lemak yang tidak dapat dicerna dan juga setelah pemberian garam barium setelah pemeriksaan
radiologik. Tinja yang berwarna merah muda dapat disebabkan oleh perdarahan yang segar dibagian distal, mungkin pula oleh makanan seperti bit atau tomat. Warna coklat mungkin disebabkan adanya perdarahan dibagian proksimal saluran
pencernaan atau karena makanan seperti coklat, kopi dan lain-lain. Warna coklat tua disebabkan urobilin yang berlebihan seperti pada anemia hemolitik. Sedangkan warna hitam dapat disebabkan obat yang yang mengandung besi, arang atau bismuth dan mungkin juga oleh melena.1-4
d. bau
    Indol, skatol dan asam butirat menyebabkan bau normal pada tinja. Bau busuk didapatkan jika dalam usus terjadi pembusukan protein yang tidak dicerna dan dirombak oleh kuman. Reaksi tinja menjadi lindi oleh pembusukan semacam itu. Tinja yang berbau tengik atau asam disebabkan oleh peragian gula yang tidak dicerna seperti pada diare. Reaksi tinja pada keadaan itu menjadi asam.2,3
e. darah
    Adanya darah dalam tinja dapat berwarna merah muda,coklat atau hitam. Darah itu mungkin terdapat di bagian lua rtinja atau bercampur baur dengan tinja. Pada perdarahan proksimal saluran pencernaan darah akan bercampur dengan tinja dan warna menjadi hitam, ini disebut melena seperti pada tukak lambung atau varices dalam oesophagus. Sedangkan pada perdarahan di bagian distal saluran pencernaan darahterdapat di bagian luar tinja yang berwarna merah muda yang dijumpai pada hemoroid atau karsinoma rektum.2,3,4
f. lendir
Dalam keadaan normal didapatkan sedikit sekali lendir dalam tinja. Terdapatnya lendir yang banyak berarti ada rangsangan atau radang pada dinding usus. Kalau lendir itu hanya didapat di bagian luar tinja, lokalisasi iritasi itu mungkin terletak pada usus besar. Sedangkan bila lendir bercampur baur dengan tinja mungkin sekali iritasi terjadi pada usus halus. Pada disentri, intususepsi dan ileokolitis bisa didapatkan lendir saja tanpa tinja.2,3
g. parasit
    Diperiksa pula adanya cacing ascaris, anylostoma dan lain-
lain yang mungkin didapatkan dalam tinja.


2. PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS

Pemeriksaan mikroskopik meliputi pemeriksaan protozoa, telur cacing, leukosit, eritosit, sel epitel, kristal dan sisa makanan. Dari semua pemeriksaan ini yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap protozoa dan telur cacing.
a. Protozoa
    Biasanya didapati dalam bentuk kista, bila konsistensi tinja cair baru didapatkan bentuk trofozoit.
gambar protozoa pada mikroskopis tinja ( sumber : google )
b. Telur cacing
Telur cacing yang mungkin didapat yaitu Ascaris lumbricoides, Necator americanus, Enterobius vermicularis, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis dan sebagainya.2,3
telur Ascaris lumbricoides (sumber:google) telur cacing tambang (sumber:googl
c. leukosit
   Dalam keadaan normal dapat terlihat beberapa leukosit dalam seluruh sediaan. Pada disentri basiler, kolitis ulserosa dan peradangan didapatkan peningkatan jumlah leukosit.2,3Eosinofil mungkin ditemukan pada bagian tinja yang berlendir pada penderita dengan alergi saluran pencenaan.3
d. eritrosit
    Eritrosi thanya terlihat bila terdapat lesi dalam kolon, rektum atau anus. Sedangkan bila lokalisasi lebih proksimal eritrosit telah hancur. Adanya eritrosit dalam tinja selalu berarti abnormal.
f. epitel
    Dalam keadaan normal dapat ditemukan beberapa sel epite lyaitu yang berasal dari dinding usus bagian distal. Sel epitelyang berasal dari bagian proksimal jarang terlihat karena sel inibiasanya telah rusak. Jumlah sel epitel bertambah banyak kalau ada perangsangan atau peradangan dinding usus bagian distal.1-3
g. kristal
    Kristal dalam tinja tidak banyak artinya. Dalam tinja normal mungkin terlihat kristal tripel fosfat, kalsium oksalat dan asam lemak. Kristal tripel fosfat dan kalsium oksalat didapatkan setelah memakan bayam atau strawberi, sedangkan kristal asam lemak didapatkan setelah banyak makan lemak. Sebagai kelainan mungkin dijumpai kristal Charcoat Leyden Tinja LUGOL Butir-butir amilum dan kristal hematoidin. Kristal Charcoat Leyden didapat pada ulkus saluran pencernaan seperti yang disebabkan amubiasis. Pada perdarahan saluran pencernaan mungkin didapatkan kristal hematoidin.2,3
kristal hemetoidin (sumber:google)
h. Sisa makanan
   Hampir selalu dapat ditemukan juga pada keadaan normal, tetapi dalam keadaan tertentu jumlahnya meningkat dan hal ini dihubungkan dengan keadaan abnormal. Sisa makanan sebagian berasal dari makanan daun-daunan dan sebagian lagi berasal dari hewan seperti serat otot, serat elastisdan lain-lain. Untuk identifikasi lebih lanjut emulsi tinja dicampur dengan larutan lugol untuk menunjukkan adanya amilum yang tidak sempurna dicerna. Larutan jenuh Sudan IIIatau IV dipakai untuk menunjukkan adanya lemak netral seperti pada steatorrhoe.2 Sisa makanan ini akan meningkat jumlahnya pada sindroma malabsorpsi.

3. PEMERIKSAAN KIMIA TINJA.

   Pemeriksaan kimia tinja yang terpenting adalah pemeriksaan
terhadap darah samar. Tes terhadap darah samar untukmengetahui adanya perdarahan kecil yang tidak dapat dinyatakan secara makroskopik atau mikroskopik.2,3,4 Adanya darah dalam tinja selalau abnormal. Pemeriksaan darah samar dalam tinja dapat dilakukan dengan menggunakan tablet reagens. Prinsip pemeriksaan ini hemoglobin yang bersifat sebagai peroksidase akan menceraikan hidrogen peroksida menjadi air dan 0 nascens (On). On akan mengoksidasi zat warna tertentu yang menimbulkan perubahan warna 4,5
Tablet Reagens banyak dipengaruhi beberapa faktor terutama pengaruh makanan yang mempunyai aktifitas sebagai peroksidase sering menimbulkan reaksi positif palsu seperti daging, ikan sarden dan lain lain. Menurut kepustakaan, pisang dan preparat besi seperti ferrofumarat dan ferro carbonat dapat menimbulkan reaksi positif palsu dengan tablet reagens. Maka dianjurkan untuk menghindari makanan tersebut diatas selama 3-4 hari sebelum dilakukan pemeriksaan darah samar.4,5 Pemeriksaan bilirubin akan beraksi negatif pada tinja normal,karena bilirubin dalam usus akan berubah menjadi urobilinogen dan kemudian oleh udara akan teroksidasi menjadi urobilin. Reaksi mungkin menjadi positif pada diare dan pada keadaan yang menghalangi perubahan bilirubin menjadi urobilinogen, seperti pengobatan jangka panjang dengan
antibiotik yang diberikan peroral, mungkin memusnakan flora usus yang menyelenggarakan perubahan tadi.1,2,3 Dalam tinja normal selalu ada urobilin. Jumlah urobilin aka nberkurang pada ikterus obstruktif, jika obstruktif total hasil tes
menjadi negatif, tinja berwarna kelabu disebut akholik. Penetapan kuantitatif urobilinogen dalam tinja memberikan hasil yang lebih baik jika dibandingkan terhadap tes urobilin,karena dapat menjelaskan dengan angka mutlak jumlah
urobilinogen yang diekskresilkan per 24 jam sehingga bermakna
dalam keadaan seperti anemia hemolitik dan ikterus obstruktif.2
Tetapi pelaksanaan untuk tes tersebut sangat rumit dan sulit, karena itu jarang dilakukan di laboratorium. Bila masih diinginkan penilaian ekskresi urobilin dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan urobilin urin.

Senin, 16 April 2012

PENYAKIT ASMA

PENYAKIT ASMA


   Asma adalah penyakit inflamasi (radang) kronik saluran napas menyebabkan peningkatan hiperesponsif jalan nafas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi (nafas berbunyi ngik-ngik), sesak nafas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam menjelang dini hari. 
Gejala tersebut terjadi berhubungan dengan obstruksi jalan nafas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversible dengan atau tanpa pengobatan. 
Seperti diketahui, saluran napas manusia bermula dari mulut dan hidung, lalu bersatu di daerah leher menjadi trakea (tenggorok) yang akan masuk ke paru. Di dalam paru, satu saluran napas trakea itu akan bercabang dua, satu ke paru kiri dan satu lagi ke paru kanan. Setelah itu, masing-masing akan bercabang-cabang lagi, makin lama tentu makin kecil sampai 23 kali dan berujung di alveoli, tempat terjadi pertukaran gas, oksigen (O 2 ) masuk ke pembuluh darah, dan karbon dioksida (CO 2 ) dikeluarkan.

Yang beresiko terkena penyakit asma ?
  Asma adalah penyakit yang dapat terjadi pada siapa saja dan dapat timbul segala usia, meskipun demikian, umumnya asma lebih sering terjadi pada anak-anak usia dibawah lima tahun dan orang dewasa pada usia sekitar tigapuluh tahunan. Para ahli asma mempercayai bahwa asma merupakan penyakit keturunan dan sebagian besar orang yang menderita asma karena allergi terhadap sumber allergi tertentu.
Gejala ASMA ?
       Secara umum gejala asma adalah sesak napas, batuk berdahak dan suara napas yang berbunyi ngik-ngik dimana seringnya gejala ini timbul pada pagi hari menjelang waktu subuh, hal ini karena pengaruh keseimbangan hormon kortisol yang kadarnya rendah ketika pagi dan berbagai faktor lainnya.

      Penderita asma akan mengeluhkan sesak nafas karena udara pada waktu bernafas tidak dapat mengalir dengan lancar pada saluran nafas yang sempit dan hal ini juga yang menyebabkan timbulnya bunyi ngik-ngik pada saat bernafas. Pada penderita asma, penyempitan saluran pernafasan yang terjadi dapat berupa pengerutan dan tertutupnya saluran oleh dahak yang dirpoduksi secara berlebihan dan menimbulkan batuk sebagai respon untuk mengeluarkan dahak tersebut. Gambar dibawah ini adalah gambar penampang paru dalam keadaan normal dan saat serangan asma.
      Pada saat serangan, penderita asma bisa kelihatan amat menderita (banyak batuk, sesak napas hebat dan bahkan sampai seperti tercekik), tetapi di luar serangan dia sehat-sehat saja (bisa main tenis 2 set, bisa jalan-jalan keliling taman, dan lain-lain). Inilah salah satu hal yang membedakannya dengan penyakit lain (keluhan sesak pada asma adalah revesibel, bisa baik kembali di luar serangan, sementara pada PPOK adalah irreversible , tetap saja sesak setiap waktu).
Pengobatan asma ?
     Penanganan asma yang paling efektif adalah dengan menghindari faktor-faktor pencetus asma dan menggunakan obat asma untuk mengurangi pembengkakan saluran pernafasan. Pengobatan asma secara cepat/jangka pendek yaitu dengan menggunakan ob at pelega saluran pernafasan seperti inhaler dan nebulizer yang berfungsi menghentikan serangan asma. Pengobatan jangka panjang yang berfungsi untuk mencegah terjadinya serangan asma adalah dengan menggunakan obat-obatan seperti steroid berfungsi untuk tetap membuat saluran pernafasan terbuka dan menggurangi pembengkakan.

Jumat, 13 April 2012

Pemeriksaan spermatologi (kimia klinik)


PEMERIKSAAN DAN GANGGUAN SPERMA


  Pengambilan sample



                        Sperma sebaiknya diperoleh dengan cara masturbasi dan ditampung dalam botol kaca bermulut lebar, sperma tidak boleh dibiarkan pada udara terbuka, karena sperma dapat mati setelah 5 detik setelah dibiarkan pada udara terbuka. Sperma diantar ke laboratorium dalam waktu 1 jam setelah dikeluarkan, sperma dilindungi dari suhu yang ekstrim selama pengangkutan ke laboratorium suhunya berkisar antara 20-40 derajat celcius.

B. Makroskopis
            a. warna                     : putih kelabu
            b. bau             : akasia , jika bau busuk,berarti ada infeksi
            c. konsistensi : agak kental
            d. liquefacion : mencair dalam waktu 15-20 menit
            e. volume                   : 2 – 5 ml
            f. ph                             : 7,2 – 7,8

Catatan :
                        sperma yang keluar selalu menunjukkan adanya gumpalan diantara lendir putih yang cair,gumpalan tersebut akan mencair dalam waktu 15-20 menit,jika > 20 menit berarti ada gangguan pada kelenjar prostat.

C. Mikroskopis
a. Morfologi
            Pemeriksaan morfologi sperma ditujukan untuk melihat bentuk-bentuk sperma yang didasarkan atas bentuk kepala, sperma normal kepalanya berbentuk oval,reguler dengan bagian tengah utuh & punya ekor yang panjang dan tidak melingkar, dengan panjang 45um.
     Spermatozoa disebut mempunyai kualitas bentuk yang cukup baik apabila 50% spermatozoa mempunya bentuk normal. Pemeriksaan morfologi mecakup bagian kepala, leher dan ekor dari sperma. Bila > 50% spermatozoa mempunyai morfologi abnormal maka disebut Teratozoospermia.
 
b. Motilitas
            Sperma bergerak dengan maksud agar sampai di alat reproduksi wanita untuk pembuahan,energinya bersumber pada bagia tengah sperma.
            Pergerakan spermatozoa dapat dibagi menjadi beberapa grade , meliputi :
            o = spermatozoa tidak menunjukkan pergerakan
            1 = spermatozoa bergerak kedepan dengan lambat
            2 = spermatozoa bergerak kedepan dengan cepat
3 = spermatozoa bergerak kedepan dengan sangat cepat



c. Jumlah sperma
            Normal = 20 – 250 juta/ml
            terdapat istilah dalam jumlah sperma, antara lain :
            0 juta/ml                      Azoospermia
            0 – 5 juta/ml                           Ekstrimoligozoospermia
            < 20    juta/ml                     Oligozoospermia
            > 250 juta/ml           Polizoospermia

d. Adanya sel-sel bukan sperma
                        Dalam cairan ejakulat terdapat benda-benda bukan sperma,benda-benda itu berasal dari saluran genital atau kelenjar asesoria,benda hidup maupun benda mati.
benda hidup :                        benda mati :
•       parasit                 - sel epitel      
•      Jamur                   - kristal-kristal
•      Bakteri                  - lemak
                                                - benda prostat


e. Aglutinasi sperma
                        Aglutinasi ialah Penggumpalan / perlekatan antara satu sperma dengan beberapa sperma yang lain.




 

D. Uji biokimiawi
            Dilakukan bila ada kelainan mikroskopik dan makroskopik, menunjuk pada fungsi kelenjar asesori
•      prostat → kadar asam sitrat, gamma glutamil transpeptidase dan fosfatase asam.
•      epididimis → kadar karnitin bebas alfa glukosidase
Uji biokimiawi semen untuk menilai kemampuan sekresi prostat adalah mengukur kadar seng dan asam sitrat. Sekret kelenjar prostat merupakan bagian yang meliputi 15-30% volume semen total.

E. Uji Imunologi
                        Pemeriksaan imunologi dilakukan karena adanya antibodi pelapis semen tersebut, antibodi pelpis sperma merupakan tanda khas dan patognomonik untuk infertilitas yang disebabkan faktor imunologi. Antibodi sperma ada 2 kelas imunologi, yaitu IgA dan IgG.

F. Uji mikrobiologi
                        pemeriksaan mikrobiologi dilakukan jika dicurigai adanya infeksi mikroba pada semen tersebut.
                        Pemeriksaan lainnya berupa pemeriksaan air seni pertama dan kedua serta cairan prostat yang dipeoleh melalui pemijatan prostat dan air seni setelah pemijatan prostat.

GANGGUAN SPERMA

Macam – macam gangguan sperma :
11.      Azoospermia : keadaan dimana dalam cairan ejakulat tidak ditemukan sperma
22.      Aspermatogenesis : tidak terjadi pembuahan sperma di dalam testis
33.      Aspermia : tidak terdapat ejakulat
44.      Hypospermia : volume ejakulat < 1ml
55.      Hyperspermia : volume ejakulat >6ml
66.      Oligospermia : jumlah sperma dibawah 20juta/ml
77.      Asthenospermia : jumlah sperma bergerak < 50%
88.      Necrospermia : keadaan dimana jumlah semua sperma dalam keadaan mati
99.      Teratozoospermia : bentuk sperma yang abnormal 
10.    Polizoospermia : bila jumlah sperma > 250juta/ml 
11.       Leukospermia : warna sperma putih susu karena terdapat banyak leukosit
12.       Hemospermia : warna soperma kemerahan karena terdapat banyak erytrosit 
13. Dan lain sebagainya …..




 

Remains in my blog ^^ Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos